Nama : RAMADHANI

NIM : I14100027

Laskar : 29

Cerita Inspirasi Diri Sendiri

Nama saya adalah Ramadhani. Saya lahir pada bulan Ramadhan. Saya ingin menceritakan tentang bagaimana saya dilahirkan dari seorang ibu yang sangat mencintai saya. Saat malam menjelang kelahiran, ibu saya merintih kesakitan pada perutnya. Ia mengeluhkan perutnya, karena mungkin saya akan lahir. Saat itu, jam 5.00 sore. Bidan sudah membawa ibu saya ke kemar bersalin, dan pada saat itu juga ibu saya memulai proses bersalinan. Pada saat proses melahirkan, ternyata bidan melihat yang keluar pertama sekali dari anggota tubuh saya adalah kaki sebelah kiri. Ternyata saya akan lahir dalam keadaan yang berbeda dengan kelahiran bayi pada umumnya yang lahir dengan kepada lebih dahulu. Akhirnya bidanpun memberi semangat kepada ibu saya agar kuat dalam proses tersebut.

Bidan terus membantu ibu saya dalam melahirkan dan agar saya juga selamat. Akhirnya jam 01.00 dini hari dengan penuh perjuangan dari ibu saya dan bidan sayapun dilahirkan. Ayah saya juga sempat ketakutan karena ibu saya akan melahirkan saya dalam keadaan seperti itu. Kemudian setelah saya lahir, ternyata saya tidak menangis seperti bayi-bayi yang baru lahir pada umumnya. Bidanpun terkejut, dan akhirnya saya segera dimandikan dan setelah dimandikan, punggung saya digosok-gosok kemudian pantat saya dipukul agar saya menangis. Akhirnya saya dapat menangis kuat pada saat itu.

Hal ini diceritakan oleh saya saat saya menginjak kelas 1 SMA. Saya sungguh beruntung dapat dilahirkan ke dunia ini oleh Allah SWT melalui ibu saya yang kuat. Saya selalu berpikir betapa besar kekuasaan Tuhan YME dan betapa berat perjuangan seorang ibu dalam melahirkan anaknya. Mulai dari saat saya mengetahui hal tersebut, saya berjanji dalam hati tidak ingin dan tidak akan membuat hati ibu saya sedih pada saat setelah saya mendengar cerita itu dari ayah saya. Dan saya berjanji untuk berusaha membahagiakan kedua orangtua saya. Mungkin salah satunya yaitu dengan lulusnya saya di Institut Pertanian Bogor (IPB) ini dapat membuat hati ayah dan ibu saya bahagia dan bangga. Karena mungkin banyak siswa-siswa yang menginginkan masuk ke IPB ini, namun belum dapat mewujudkannya.

Oleh karena itu, saya ingin mengajak teman-teman untuk mulai berpikir, kita harus bisa membanggakan diri sendiri dan kedua orangtua kita dengan cara  belajar yang rajin dan sungguh-sungguh agar kedepannya kita tidak menyesal. Dan hal ini merupakan salah satu bentuk rasa hormat dan berbaktinya kita kepada orangtua yang telah melahirkan kita ke dunia ini dan juga yang telah merawat kita hingga kita dewasa seperti sekarang ini.

Serta salah satu bentuk pengabdian kita kepada Tuhan yaitu dengan bersyukur dan memaknai kehidupan ini dengan indah bahwa kehidupan adalah anugrah Tuhan YME yang tidak akan kita dapatkan jika Tuhan tidak menghendaki-Nya.

Cerita Inspirasi Orang Lain

Saya ingin menceritakan tentang seseorang yang saat ini menginspirasikan saya tentang makna mensyukuri kehidupan. Saya ingin bercerita tentang sahabat saya yang saat ini ada di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Namanya adalah Pretty Pranita Citra. Cantik ya namanya, secantik orangnya. Dia adalah sahabat saya sejak kelas 3 SD. Orangnya periang, baik, dan pintar. Sewaktu akan menaiki kelas 5 SD, orangtuany dipindahtugaskan ke Tanjung Pinang. Saat itu saya sangat merasa sedih karena saya kehilangan sahabat yang sangat baik.

Setelah hampir 4 tahun kami tidak pernah berkomunikasi karena dulunya masih kecil, jadi kami belum mengerti tentang teknologi pembantu komunikasi seperti hp, dll. Sehingga saya tidak tahu alamat dia di Tanjung Pinang. Tapi suatu hari saya mendapat surat dari Pretty. Saat itu saya dan dia telah menjajaki kelas 3 SMP. Ketika saya mendapatkan surat dari Pretty, saya sangat senang dan terharu. Dalam suratnya itu dia menyampaikan rasa rindunya kepada saya. Dan di bawahnya dia menuliskan no hp dia yang ada untuk dihubungi saat ini. Sayapun langsung menghubunginya.

Saat saya menghubunginya, saya begitu senang mendengar suaranya kembali. Setelah bercerita begitu panjang lebar, akhirnya Pretty mengatakan sebuah kabar yang tidak menyenangkan hati saya. Dia menceritakan bahwa dia terkena gejala penyakit kanker otak. Ada pembuluh darah di otaknya yang rusak. Namun dia masih bisa berpikir dan masih bisa mengingat tentang banyak hal. Dia mengeluh kepada saya kalau dia sehari-hari sering pusing kalau sudah kelelahan beraktivitas dan dia sekarang sudah merosot prestasinya karena sudah sedikit sulit untuk menerima pelajaran dengan baik dan benar. Dia juga jadi anak yang pelupa dengan sesuatu yang sudah dan akan dia kerjakan. Sehingga dia harus mencatat segala sesuatunya dalam sebuah buku catatan kecil. Saya yang mendengarnya langsung menangis dan meneteskan air mata. Tidak pernah terpikirkan oleh saya dia akan mengalami penyakit seperti itu. Saya selalu memberikan semangat kepada dia dan dia juga berpesan kepada saya untuk tidak perlu terlalu memikirkan tentang hal tersebut karena dia akan baik-baik saja. Sampai akhirnya ibunya membawa dia ke rumah sakit untuk menjalani perawatan.

Setelah setahun berlalu diapun memberikan kabar bahwa penyakitnya telah berkurang dan dia membaik. Sekarang dia sudah lebih kuat. Namun ada sedikit masalah yaitu rambutnya sering rontok. Mungkin itu akibat perawatan yang dia jalani. Saya sangat kasihan padanya, namun saya hanya berdo’a kepada Tuhan agar dia diberikan kekuatan dalam menjalai cobaan yang dialami dalam hidupnya.

Saat akan menjalani tes masuk perguruan tinggi, dia mengikuti beberapa tes perguruan tinggi yang diinginkannya. Saya mengatakan bahwa saya mencoba ikut tes di IPB. Namun dia tidak mengikutinya, dia lebih memilih ikut di UI dan UGM. Saya tidak keberatan, namun sayangnya satupun tes yang diikutinya tidak berhasil. Saat saya memberi kabar bahwa saya telah lulus di IPB, dia memberikan selamat, namun saya sedih karena dia belum juga mendapatkan perguruan tinggi.

Sampai akhirnya dia mengikuti tes SNMPTN di UGM. Dan ternyata hasilnya juga tidak memuaskan. Dia tidak lulus juga, saya sangat sedih. Kenapa sahabat saya harus mengalami kesulitan seperti itu. Kami selalu berkomunikasi saat itu, dan akhirnya saya mendapat kabar bahwa dia lulus di sebuah universitas swasta di Yogyakarta.

Saya banyak belajar dari dirinya, betapa sulitnya dia dalam menjalani kehidupannya, namun sahabatku itu tetap bertahan dan dia selalu optimis bahwa semuanya sudah diatur oleh Tuhan YME. Kita seharusnya lebih memaknai kehidupan dengan selalu berusaha dan berdo’a.